Kamis, 10 Juni 2010

Berpisah untuk selamanya :(

“ Apakah penyesalan selalu datang di akhir dan mengapa tidak di awal ? Mengapa orang yang kita sayang akan cepat pergi meninggalkan kita ? Ya, sebuah pertemuan pasti ada perpisahan dan tak selamanya kita dapat berada di sampingnya”, itulah kata-kata yang terjawab di pikiranku saat melihat jenazah kakekku tercinta.

“Sudahlah Bert, kita harus tabah dalam menghadapi cobaan yang berat ini, mungkin ini sudah waktunya kakekmu meninggalkan kita untuk selamanya”, kata itu yang terucap dari Mamaku saat itu.

Memang dalam keadaan duka, kita akan selalu mengingat masa-masa indah bersama orang yang kita sayangi apalagi sedarah. Berawal dari hari Selasa, 12 Agustus 2008, sekitar pukul 15.45 WIB, tepatnya saat itu aku baru saja pulang dari sekolah, memang hari Selasa jadwal di sekolah agak padat tapi semua ini harus kujalani demi menggapai cita-citaku. Saat aku berjalan menuju ke kamar, aku melihat kakekku yang berjalan dengan wajah seperti tak berdaya, kemudian aku bertanya pada kakekku

` “ Ada apa ? Sakit ya ?”, sontak aku terkejut melihat muka kakekku yang semakin pucat pasi.

Kakekku tidak memberikan respon apa-apa, tapi ia ingin turun ke lantai 2, tepatnya duduk di ruang tamu dengan kursi berwarna hijau beserta bantal kesayangannya. Tapi aku tidak mengijinkan kakekku turun ke bawah karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan sementara kakekku mengalami gangguan pernapasan (sesak napas) saat itu.

Aku semakin bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan kakekku dan segera mengambil telepon genggamku untuk menelepon ayahku.

“ Pa, ini akong lagi sesak napas, apakah tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja?, tanya ku sambil melihat keadaan kakekku yang semakin memburuk.

Selama kurang lebih 15 menit, ayahku pulang dari toko dan menjemput kakekku untuk dibawa ke rumah sakit, sedangkan aku pergi les bahasa Inggris. Setelah selesai dari les bahasa Inggris, aku di jemput oleh ayahku untuk pulang ke rumah. Setibanya aku di rumah langsung membantu ayah membereskan pakaian kakekku untuk di bawa ke rumah sakit. Ayahku berencana untuk menginap di rumah sakit pada malam hari itu, tetapi tidak jadi karena kakak ayahku menyuruh agar ayahku pulang untuk beristirahat. Perasaanku semakin tak karuan memikirkan bagaimana kondisi kakek malam hari ini.

Memang aku tak dapat menjenguk kakek ke rumah sakit karena besok aku harus pagi-pagi bangun dan berangkat ke sekolah.Sebenarnya sih, ngak ada pelajaran juga, tapi kelasku ada kegiatan lomba 17 Agustus-an. Aku terus berdoa untuk memohon kesembuhan kakek. Tapi apa yang kuharapkan semuanya sia-sia, kakek telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya pada hari Rabu, 13 Agustus 2008 sekitar pukul 06.30 WIB, sementara aku mendapatkan kabar bahwa kakek telah tiada sekitar pukul 09.25. Pada saat telepon ayahku berkata begini,

“ Bert, akong sudah tidak ada lagi, yang tabah ya. Sekarang juga kamu minta izin pulang dan ke rumah duka Charitas”. Hanya tertunduk lemas aku mendengar kalimat dari ayah pada saat memberikan kabar duka bagiku.

Sesampainya di rumah, suasana yang kurasakan sangat berbeda dengan biasanya. Biasa sesampainya aku di rumah, aku melihat kakekku sedang menyaksikan acara telivisi kesukaannya. Tapi ini, berada dalam keadaan duka dan menyesali semua perbuatan jahatku pada kakek.

“Akong, aku minta maaf ya, atas semua perkataan dan perbuatanku, aku menyesal, semoga kakek bahagia di sana”, hanya kata itu yang terucap saat melihat foto almarhum kakekku dan meneteskan air mata.

“Bert, kamu nanti tunggu komak Baturaja ya, sekitar pukul 18.00, ia baru sampai di Palembang”, pesan mamaku saat berbicara di telepon. Dan kubalas “Ya”.

Hanya kata itu yang dapat kukeluarkan karena aku sangat sedih atas kehilangan kakek. Pukul 18.00 pun tiba, kudengar bel rumahku berbunyi dan membukakan pintu. Dan kulangsung bertanya pada komak “Sekarang, kita ke rumah duka yuk?”, tanyaku semangat..

“Boleh, tapi saya mau ganti baju dulu”, kata adik dari almarhum kakekku.

Setelah selesai kami bersama-sama keluar dari rumah kemudian mencari becak untuk pergi ke rumah duka.

“Mang, becak, ke rumah duka Charitas, brapa?’’, tanyaku kepada mamang becak.

“ 20 ribu bae”, jawab mamang becak itu.

Tanpa bertanya kami langsung mengiyakan tawaran harga dari mamang becak. Kurang lebih 10 menit kami sampai di rumah duka Charitas.

Suara tangis terdengar menghiasi keadaan rumah duka Charitas. Apalagi nenekku yang merasa kehilangan seorang sosok suami yang dicintainya.

“ Cing huo, cing huo”, kata itu terus terucap dari mulut nenekku saat melihat jenazah kakek akan dimasukkan ke dalam peti.

Saya di minta oleh petugas untuk berdiri dan membantu mengangkat kakek ke dalam peti jenazah. Isak tangis makin terdengar saat jenazah kakek telah berada di dalam.

Pengurus almarhum kakekku memasukkan baju, celana, sikat gigi, pasta gigi, kaca mata, sisir, gelas dan lain-lain. Semua itu adalah tradisi agama Budha. “Akong, yang tenang ya, kita akan mendoakan kakek agar terang jalannya menuju nirwana”, ucap adik sepupuku. Sementara banyak tamu yang datang memberikan ucapan turut berbela sungkawa atas meninggalnya kakekku (Agus Salim).

“ Papa…Papa…Papa…”, terdengar suara keras dari luar rumah duka, yang ternyata adalah suara kakak ayahku yang baru saja datang dari Jakarta.

Suasana haru makin menebal dan memuncak sementara itu saya dan ayahku menyusun meja yang akan dipakai untuk meletakkan foto kakek, radio, dan makanan kakek. Nenekku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.

Selama 4 hari 3 malam, kakekku di semayamkan di rumah duka Charitas. Banyak para pelayat yang datang memberikan ucapan turut berduka cita. Sementara itu, saya minta izin di sekolah untuk tidak masuk selama 5 hari dikarenakan kakek saya meninggal dunia.

Saya tak menyangka bahwa teman saya bernama Paulus, mau menggantikan saya sebagai peserta perlombaan busana koran. Meskipun sebelumnya ia tidak berminat untuk mengikuti perlombaan tersebut.

Tanggal 16 Agustus 2008 adalah waktunya kami untuk berpisah dari sisi almarhum kakek, karena kakek akan dimakamkan di Perkuburan Cina, Talang Kerikil, Kenten. Semua anggota keluargaku termasuk aku tak dapat menahan tangis karena hari ini lah hari ini kami terakhir melihat wajah kakek meskipun kakek sudah tiada. Sebelum peti jenazah kakek ditutup, kami berdoa yang dipimpin oleh Seiyong Lim Ahui dan menuangkan minyak wangi ke dalam peti jenazah kakek.

Sesudah itu, seluruh anggota keluarga diminta sujud didepan jenazah kakek untuk memberikan penghormatan terakhir kali dan melihat kakek untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan. Ada yang berteriak “Cing huo”, “Akong”, “Papa” dan lain-lain, suasana duka makin terasa.

Para pelayat pun banyak yang ingin ikut mengantarkan jenazah kakek untuk terakhir kalinya. Total 13 mobil, kami berangkat ke tempat pemakaman. Pada waktu, peti jenazah kakek akan ditutup, makin terdengar suara isak tangis yang menghiasi rumah duka Charitas.

“Akong, engkau selamanya menjadi kakekku dan kuingat hari-hari menyenangkan bersamaku, tapi ini saatnya kita berpisah untuk selama-lamanya. Semoga Akong, bisa tenang di alam sana dan aku akan berjanji untuk menjaga popo”, kalimat itu yang terucap saat terakhir kali kumelihat jenazah kakek sebelum ditutup.

“Tok..Tok..”, suara pukul besi terdengar dengan jelas, saat kakak ayahku menutup ‘peti jenazah kakekku. “Selamat jalan kakek, semoga amal baikmu dapat dikenang dan kesalahanmu dapat dimaafkan”. “Sebuah pertemuan pasti ada saatnya untuk kita berpisah dan tak selamanya kita dapat bersamanya”, kalimat itulah yang dikeluarkan oleh adik sepupuku saat aku menangis tersedu-sedu melihat peti jenazah kakek di bawa ke mobil jenazah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar