Kamis, 17 Juni 2010

Siapakah Allah

Siapakah Allah yang benar, dan siapa nama-Nya? (1, 2)
Tubuh macam apa yang Ia miliki? (3)
Apa sifat-sifat-Nya yang menonjol? (4)
Apakah kita patut menggunakan patung dan lambang dalam ibadat kita kepada-Nya? (5)
Dengan dua cara apa kita dapat belajar tentang Allah? (6)

1. Orang-orang menyembah banyak hal. Akan tetapi, Alkitab memberi tahu kita bahwa hanya ada satu Allah yang BENAR. Ia menciptakan segala sesuatu yang ada di surga dan di bumi. Oleh karena Ia memberi kita kehidupan, Ia adalah satu-satunya Pribadi yang harus kita sembah.—1 Korintus 8:5, 6; Penyingkapan (Wahyu) 4:11.

2. Allah mempunyai banyak gelar tetapi hanya mempunyai satu nama. Nama itu adalah YEHUWA. Dalam kebanyakan Alkitab, nama Allah telah disingkirkan dan telah diganti dengan gelar-gelar seperti TUHAN atau ALLAH . Akan tetapi, ketika Alkitab ditulis, nama Yehuwa muncul di dalamnya kira-kira sebanyak 7.000 kali!—Keluaran 3:15; Mazmur 83:19.

3. Yehuwa memiliki tubuh, tetapi bukan seperti tubuh kita. ”Allah adalah Roh,” kata Alkitab. (Yohanes 4:24) Roh adalah suatu bentuk kehidupan yang jauh lebih tinggi daripada yang kita miliki. Tidak ada manusia yang pernah melihat Allah. Yehuwa tinggal di surga, tetapi Ia dapat melihat segala sesuatu. (Mazmur 11:4, 5; Yohanes 1:18) Jadi, apakah roh kudus itu? Roh kudus bukanlah suatu pribadi seperti Allah. Sebaliknya, itu adalah tenaga aktif Allah.—Mazmur 104: 30.
4. Akitab menyingkapkan kepribadian Yehuwa kepada kita. Alkitab memperlihatkan bahwa sifat-sifat-Nya yang menonjol adalah kasih, keadilan, hikmat, dan kuasa. (Ulangan 32:4; Ayub 12:13; Yesaya 40:26; 1 Yohanes 4:8) Alkitab menceritakan bahwa Ia juga berbelaskasihan, baik hati, suka mengampuni, murah hati, dan sabar. Kita, sebagaimana anak-anak yang taat, harus berupaya meniru Dia.—Efesus 5:1, 2.

Kita belajar tentang Allah dari ciptaan dan dari Alkitab

5. Apakah kita patut membungkukkan diri atau berdoa kepada patung, gambar, atau lambang dalam ibadat kita? Tidak! (Keluaran 20:4, 5) Yehuwa mengatakan bahwa kita harus menyembah Dia saja. Ia tidak akan membagi kemuliaan-Nya dengan siapa pun atau apa pun. Patung tidak memiliki kuasa untuk menolong kita.—Mazmur 115:4-8; Yesaya 42:8.

6. Bagaimana kita dapat mengenal Allah dengan lebih baik? Satu cara adalah dengan mengamati hal-hal yang telah Ia ciptakan dan memikirkan secara mendalam apa yang mereka ceritakan kepada kita. Ciptaan-ciptaan Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Ia memiliki kuasa dan hikmat yang hebat. Kita melihat kasih-Nya melalui segala yang telah Ia buat. (Mazmur 19:2-7; Roma 1:20) Cara lain kita dapat belajar tentang Allah adalah dengan mempelajari Alkitab. Di dalam Alkitab Ia menceritakan lebih banyak kepada kita tentang Allah macam apa Dia itu. Ia juga menceritakan kepada kita tentang maksud-tujuan-Nya dan apa yang Ia ingin untuk kita lakukan.—Amos 3:7; 2 Timotius 3:16, 17.

Siapakah Allah

Siapakah Allah yang benar, dan siapa nama-Nya? (1, 2)
Tubuh macam apa yang Ia miliki? (3)
Apa sifat-sifat-Nya yang menonjol? (4)
Apakah kita patut menggunakan patung dan lambang dalam ibadat kita kepada-Nya? (5)
Dengan dua cara apa kita dapat belajar tentang Allah? (6)

1. Orang-orang menyembah banyak hal. Akan tetapi, Alkitab memberi tahu kita bahwa hanya ada satu Allah yang BENAR. Ia menciptakan segala sesuatu yang ada di surga dan di bumi. Oleh karena Ia memberi kita kehidupan, Ia adalah satu-satunya Pribadi yang harus kita sembah.—1 Korintus 8:5, 6; Penyingkapan (Wahyu) 4:11.

2. Allah mempunyai banyak gelar tetapi hanya mempunyai satu nama. Nama itu adalah YEHUWA. Dalam kebanyakan Alkitab, nama Allah telah disingkirkan dan telah diganti dengan gelar-gelar seperti TUHAN atau ALLAH . Akan tetapi, ketika Alkitab ditulis, nama Yehuwa muncul di dalamnya kira-kira sebanyak 7.000 kali!—Keluaran 3:15; Mazmur 83:19.

3. Yehuwa memiliki tubuh, tetapi bukan seperti tubuh kita. ”Allah adalah Roh,” kata Alkitab. (Yohanes 4:24) Roh adalah suatu bentuk kehidupan yang jauh lebih tinggi daripada yang kita miliki. Tidak ada manusia yang pernah melihat Allah. Yehuwa tinggal di surga, tetapi Ia dapat melihat segala sesuatu. (Mazmur 11:4, 5; Yohanes 1:18) Jadi, apakah roh kudus itu? Roh kudus bukanlah suatu pribadi seperti Allah. Sebaliknya, itu adalah tenaga aktif Allah.—Mazmur 104: 30.
4. Akitab menyingkapkan kepribadian Yehuwa kepada kita. Alkitab memperlihatkan bahwa sifat-sifat-Nya yang menonjol adalah kasih, keadilan, hikmat, dan kuasa. (Ulangan 32:4; Ayub 12:13; Yesaya 40:26; 1 Yohanes 4:8) Alkitab menceritakan bahwa Ia juga berbelaskasihan, baik hati, suka mengampuni, murah hati, dan sabar. Kita, sebagaimana anak-anak yang taat, harus berupaya meniru Dia.—Efesus 5:1, 2.

Kita belajar tentang Allah dari ciptaan dan dari Alkitab

5. Apakah kita patut membungkukkan diri atau berdoa kepada patung, gambar, atau lambang dalam ibadat kita?
Tidak! (Keluaran 20:4, 5) Yehuwa mengatakan bahwa kita harus menyembah Dia saja. Ia tidak akan membagi kemuliaan-Nya dengan siapa pun atau apa pun. Patung tidak memiliki kuasa untuk menolong kita.—Mazmur 115:4-8; Yesaya 42:8.

6. Bagaimana kita dapat mengenal Allah dengan lebih baik?
Satu cara adalah dengan mengamati hal-hal yang telah Ia ciptakan dan memikirkan secara mendalam apa yang mereka ceritakan kepada kita. Ciptaan-ciptaan Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Ia memiliki kuasa dan hikmat yang hebat. Kita melihat kasih-Nya melalui segala yang telah Ia buat. (Mazmur 19:2-7; Roma 1:20) Cara lain kita dapat belajar tentang Allah adalah dengan mempelajari Alkitab. Di dalam Alkitab Ia menceritakan lebih banyak kepada kita tentang Allah macam apa Dia itu. Ia juga menceritakan kepada kita tentang maksud-tujuan-Nya dan apa yang Ia ingin untuk kita lakukan.—Amos 3:7; 2 Timotius 3:16, 17.

Jumat, 11 Juni 2010

Puisi " Pujaan Hatiku"

Pertama kali kulihat dia
Untaian kata cinta menebar di hatiku
Jejak langkahmu terukir di hatiu
Andaikan kau tahu
Apapun kulakukan untukmu
Nafas hidupmu tertiup di hatiku
Hari-hariku selalu bersamamu
Angan-anganmu selalu bersamaku
Terpaku benih cintaku dalam relung hatimu
Izinkan aku masuk ke dalam hatimu
Kenangan indah bersamamu
Untuk kubawa hingga akhir napasku

Java Island Trip

Five years ago, my big family and I, spent our holiday by travelling around the Jawa Island. It was all planned four months before our departure date. Our plan is to travel by car. My two uncles and my father will take turn driving the car.
We depart from Palembang, at about 04.00 o’clock in the morning to our first stop, Lampung, and then we have to cross the sea by ferry at the Bakauheni port to Jakarta. Travelling by ferry but sitting in the car was a new experience for me. The ferry was a very crowded boat, it doesn’t only carry passengers but it also carries vehicles and trucks loaded with goods that will be delivered around Indonesia. It was lucky, that the weather was good so the ferry ride wasn’t a very rough one.
It was 10am when we reach Jakarta, from Jakarta we start our day having breakfast at a small restaurant. Then we continue moving towards east to Java Island. Our main stop is the Jepara Province. This province produces the best woodcraft furniture and they also have the best workmanship in Indonesia. Everyone can’t wait to reach there as soon as possible.
I can’t remember how long it took to travel from Jakarta to Jepara, during the journey, everyone in the car chatted, share their thoughts, made jokes, time seemed passed so fast that we didn’t realize we already reach the Jepara’s border. Luckily, before our trip my father contacted his friend, a local which will bring us around the province. Although I don’t really like the food there, but the local carpenter really produce very fine wood furniture. It was really an eye-opening experience for me.
It was really regret for not staying at that place long enough, but I also can’t wait to move on and travel around the Java Island. We continue travel around the island for 1 week and start our journey back to Palembang with double the baggage full of gifts and souvenirs.

Kamis, 10 Juni 2010

Inspirasi dari Para Ilmuan


Judul buku : Sejarah Penemuan

Penulis : Anna Claybourne dan Adam Larkum

Penerbit : Erlangga

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2007

Tebal buku : 95 halaman

Ukuran Buku : 16,8 x 23 cm

Jenis Kertas : HVS 70gr

Harga Buku : Rp 50.070,00

Nomor ISBN : 978-979-033-870-8

Manusia adalah penemu. Sejak zaman prasejarah, manusia telah menggunakan bahan-bahan di sekelilingnya untuk menciptakan berbagai alat, perkakas, dan mainan yang berguna. Sepertinya hal ini tak akan berhenti, karena setiap manusia memiliki ide kreatif yang dapat membuat benda yang bermanfaat. Meskipun kita tak dapat menyaksikan secara langsung suatu benda, alat atau rumus tersebut ditemukan oleh Ilmuan tetapi kita dapat mengetahui segala sesuatu mengenai perkembangan atau sejarah ditemukannya melalui buku pengetahuan, cerita dari orang lain, dan situs internet.

Melalui buku Sejarah Penemuan, yang ditulis oleh Anna Claybourne dan Adam Larkum kita dapat mempelajari dan mengetahui kisah penemuan sebuah benda atau alat yang kita gunakan saat ini sekaligus dapat memperoleh inspirasi dari setiap penemuan yang ditemukan oleh Ilmuan. Banyak peralatan dan perlengkapan yang telah ditemukan oleh para Ilmuan, baik penemuan kuno, seperti roda, hingga alat-alat berteknologi tinggi di zaman moderen.

Dengan membaca buku ini, kita yang belum mengetahui siapa penemu yang berjasa menemukan sesuatu penemuan menjadi tahu siapa saja penemu dari tiap peralatan yang kita gunakan. Melalui tulisan “tanpa penemuan-penemuan ini, kamu tidak akan bisa membaca buku” ( daftar isi ), tiap membaca dibuat penasaran dengan isi buku tersebut. Pada setiap penemuan, si penulis berusaha untuk menyajikan data yang selengkap-lengkapnya agar si pembaca dapat memahami secara langsung mengenai sejarah dan perkembangan penemuan.

Ketika melihat sampul buku Sejarah Penemuan, pembaca dibuat tertarik untuk membaca buku tersebut. Selain itu, tulisan-tulisan yang tertera di dalam buku ini membuat pembaca menjadi termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan memiliki ide-ide brilian agar dapat menjadi Ilmuan dan mampu menciptakan penemuan baru yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Gaya penulisan yang digunakan oleh si penulis sangat mudah untuk dicerna dan dipahami oleh semua kalangan, baik kalangan tua maupun kalangan muda, sehingga tiap membaca satu kalimat, pembaca dibuat penasaran untuk membaca kelanjutan dari kalimat tersebut. Selain itu, di tiap halaman, penulis menampilkan gambar-gambar ilustrasi, bagaimana seorang penemu dapat menemukan gagasan untuk membuat sesuatu yang berguna sehingga dapat digunakan oleh banyak orang, melalui ilustrasi tersebut pembaca menjadi lebih mudah mengerti dan memahami bagaimana timbulnya ide-ide brilian untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, penulis juga membuat skala waktu penemuan dari masa ke masa yang membuat kita menjadi lebih tahu perkembangan teknologi.

Kekurangan dari buku ini adalah penulis hanya menyajikan penemuan-penemuan yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, buku ini tidak memiliki daftar pustaka yang biasanya tertera dihalaman bagian belakang buku. Karena, daftar pustaka dapat membantu si pembaca untuk memahami lebih jauh asal usul suatu penemuan dari sumber yang lain seperti buku yang dikarang atau diterbitkan oleh orang lain dan website/link internet.

Kelebihan dari buku ini adalah dilengkapi dengan daftar isi, yang memudahkan si pembaca untuk langsung menemukan informasi yang diinginkan, di dalam buku ini juga terdapat daftar istilah, yang memudahkan pembaca untuk mengerti dari kata- kata yang sulit dipahami. Selain itu, pada buku “ Sejarah Penemuan” ini, terdapat gambar berupa ilustrasi, bagaimana seseorang Ilmuan melakukan percobaan dari awal sampai terciptanya suatu karya yang dapat kita manfaatkan hingga masa mendatang.

Buku karangan Anna Claybourne serta Adam Larkum ini, sangat menarik dan bermanfaat untuk dibaca, bukan sekadar untuk menambah pengetahuan tetapi juga memotivasi si pembaca untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif untuk mencoba menciptakan suatu hal yang berguna. Buku Sejarah Penemuan tidak hanya dapat dikoleksi oleh anak-anak seusia sekolah tetapi juga dapat dikoleksi oleh orang dewasa maupun orang tua yang senang dengan dunia pengetahuan. Buku ini juga dilengkapi dengan daftar indeks, untuk memudahkan mencari informasi yang dibutuhkan oleh pembaca. Bagi orang yang menyukai hal-hal mengenai penemuan, buku ini dapat menambah koleksi buku-buku pengetahuan.

Berpisah untuk selamanya :(

“ Apakah penyesalan selalu datang di akhir dan mengapa tidak di awal ? Mengapa orang yang kita sayang akan cepat pergi meninggalkan kita ? Ya, sebuah pertemuan pasti ada perpisahan dan tak selamanya kita dapat berada di sampingnya”, itulah kata-kata yang terjawab di pikiranku saat melihat jenazah kakekku tercinta.

“Sudahlah Bert, kita harus tabah dalam menghadapi cobaan yang berat ini, mungkin ini sudah waktunya kakekmu meninggalkan kita untuk selamanya”, kata itu yang terucap dari Mamaku saat itu.

Memang dalam keadaan duka, kita akan selalu mengingat masa-masa indah bersama orang yang kita sayangi apalagi sedarah. Berawal dari hari Selasa, 12 Agustus 2008, sekitar pukul 15.45 WIB, tepatnya saat itu aku baru saja pulang dari sekolah, memang hari Selasa jadwal di sekolah agak padat tapi semua ini harus kujalani demi menggapai cita-citaku. Saat aku berjalan menuju ke kamar, aku melihat kakekku yang berjalan dengan wajah seperti tak berdaya, kemudian aku bertanya pada kakekku

` “ Ada apa ? Sakit ya ?”, sontak aku terkejut melihat muka kakekku yang semakin pucat pasi.

Kakekku tidak memberikan respon apa-apa, tapi ia ingin turun ke lantai 2, tepatnya duduk di ruang tamu dengan kursi berwarna hijau beserta bantal kesayangannya. Tapi aku tidak mengijinkan kakekku turun ke bawah karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan sementara kakekku mengalami gangguan pernapasan (sesak napas) saat itu.

Aku semakin bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan kakekku dan segera mengambil telepon genggamku untuk menelepon ayahku.

“ Pa, ini akong lagi sesak napas, apakah tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja?, tanya ku sambil melihat keadaan kakekku yang semakin memburuk.

Selama kurang lebih 15 menit, ayahku pulang dari toko dan menjemput kakekku untuk dibawa ke rumah sakit, sedangkan aku pergi les bahasa Inggris. Setelah selesai dari les bahasa Inggris, aku di jemput oleh ayahku untuk pulang ke rumah. Setibanya aku di rumah langsung membantu ayah membereskan pakaian kakekku untuk di bawa ke rumah sakit. Ayahku berencana untuk menginap di rumah sakit pada malam hari itu, tetapi tidak jadi karena kakak ayahku menyuruh agar ayahku pulang untuk beristirahat. Perasaanku semakin tak karuan memikirkan bagaimana kondisi kakek malam hari ini.

Memang aku tak dapat menjenguk kakek ke rumah sakit karena besok aku harus pagi-pagi bangun dan berangkat ke sekolah.Sebenarnya sih, ngak ada pelajaran juga, tapi kelasku ada kegiatan lomba 17 Agustus-an. Aku terus berdoa untuk memohon kesembuhan kakek. Tapi apa yang kuharapkan semuanya sia-sia, kakek telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya pada hari Rabu, 13 Agustus 2008 sekitar pukul 06.30 WIB, sementara aku mendapatkan kabar bahwa kakek telah tiada sekitar pukul 09.25. Pada saat telepon ayahku berkata begini,

“ Bert, akong sudah tidak ada lagi, yang tabah ya. Sekarang juga kamu minta izin pulang dan ke rumah duka Charitas”. Hanya tertunduk lemas aku mendengar kalimat dari ayah pada saat memberikan kabar duka bagiku.

Sesampainya di rumah, suasana yang kurasakan sangat berbeda dengan biasanya. Biasa sesampainya aku di rumah, aku melihat kakekku sedang menyaksikan acara telivisi kesukaannya. Tapi ini, berada dalam keadaan duka dan menyesali semua perbuatan jahatku pada kakek.

“Akong, aku minta maaf ya, atas semua perkataan dan perbuatanku, aku menyesal, semoga kakek bahagia di sana”, hanya kata itu yang terucap saat melihat foto almarhum kakekku dan meneteskan air mata.

“Bert, kamu nanti tunggu komak Baturaja ya, sekitar pukul 18.00, ia baru sampai di Palembang”, pesan mamaku saat berbicara di telepon. Dan kubalas “Ya”.

Hanya kata itu yang dapat kukeluarkan karena aku sangat sedih atas kehilangan kakek. Pukul 18.00 pun tiba, kudengar bel rumahku berbunyi dan membukakan pintu. Dan kulangsung bertanya pada komak “Sekarang, kita ke rumah duka yuk?”, tanyaku semangat..

“Boleh, tapi saya mau ganti baju dulu”, kata adik dari almarhum kakekku.

Setelah selesai kami bersama-sama keluar dari rumah kemudian mencari becak untuk pergi ke rumah duka.

“Mang, becak, ke rumah duka Charitas, brapa?’’, tanyaku kepada mamang becak.

“ 20 ribu bae”, jawab mamang becak itu.

Tanpa bertanya kami langsung mengiyakan tawaran harga dari mamang becak. Kurang lebih 10 menit kami sampai di rumah duka Charitas.

Suara tangis terdengar menghiasi keadaan rumah duka Charitas. Apalagi nenekku yang merasa kehilangan seorang sosok suami yang dicintainya.

“ Cing huo, cing huo”, kata itu terus terucap dari mulut nenekku saat melihat jenazah kakek akan dimasukkan ke dalam peti.

Saya di minta oleh petugas untuk berdiri dan membantu mengangkat kakek ke dalam peti jenazah. Isak tangis makin terdengar saat jenazah kakek telah berada di dalam.

Pengurus almarhum kakekku memasukkan baju, celana, sikat gigi, pasta gigi, kaca mata, sisir, gelas dan lain-lain. Semua itu adalah tradisi agama Budha. “Akong, yang tenang ya, kita akan mendoakan kakek agar terang jalannya menuju nirwana”, ucap adik sepupuku. Sementara banyak tamu yang datang memberikan ucapan turut berbela sungkawa atas meninggalnya kakekku (Agus Salim).

“ Papa…Papa…Papa…”, terdengar suara keras dari luar rumah duka, yang ternyata adalah suara kakak ayahku yang baru saja datang dari Jakarta.

Suasana haru makin menebal dan memuncak sementara itu saya dan ayahku menyusun meja yang akan dipakai untuk meletakkan foto kakek, radio, dan makanan kakek. Nenekku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.

Selama 4 hari 3 malam, kakekku di semayamkan di rumah duka Charitas. Banyak para pelayat yang datang memberikan ucapan turut berduka cita. Sementara itu, saya minta izin di sekolah untuk tidak masuk selama 5 hari dikarenakan kakek saya meninggal dunia.

Saya tak menyangka bahwa teman saya bernama Paulus, mau menggantikan saya sebagai peserta perlombaan busana koran. Meskipun sebelumnya ia tidak berminat untuk mengikuti perlombaan tersebut.

Tanggal 16 Agustus 2008 adalah waktunya kami untuk berpisah dari sisi almarhum kakek, karena kakek akan dimakamkan di Perkuburan Cina, Talang Kerikil, Kenten. Semua anggota keluargaku termasuk aku tak dapat menahan tangis karena hari ini lah hari ini kami terakhir melihat wajah kakek meskipun kakek sudah tiada. Sebelum peti jenazah kakek ditutup, kami berdoa yang dipimpin oleh Seiyong Lim Ahui dan menuangkan minyak wangi ke dalam peti jenazah kakek.

Sesudah itu, seluruh anggota keluarga diminta sujud didepan jenazah kakek untuk memberikan penghormatan terakhir kali dan melihat kakek untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan. Ada yang berteriak “Cing huo”, “Akong”, “Papa” dan lain-lain, suasana duka makin terasa.

Para pelayat pun banyak yang ingin ikut mengantarkan jenazah kakek untuk terakhir kalinya. Total 13 mobil, kami berangkat ke tempat pemakaman. Pada waktu, peti jenazah kakek akan ditutup, makin terdengar suara isak tangis yang menghiasi rumah duka Charitas.

“Akong, engkau selamanya menjadi kakekku dan kuingat hari-hari menyenangkan bersamaku, tapi ini saatnya kita berpisah untuk selama-lamanya. Semoga Akong, bisa tenang di alam sana dan aku akan berjanji untuk menjaga popo”, kalimat itu yang terucap saat terakhir kali kumelihat jenazah kakek sebelum ditutup.

“Tok..Tok..”, suara pukul besi terdengar dengan jelas, saat kakak ayahku menutup ‘peti jenazah kakekku. “Selamat jalan kakek, semoga amal baikmu dapat dikenang dan kesalahanmu dapat dimaafkan”. “Sebuah pertemuan pasti ada saatnya untuk kita berpisah dan tak selamanya kita dapat bersamanya”, kalimat itulah yang dikeluarkan oleh adik sepupuku saat aku menangis tersedu-sedu melihat peti jenazah kakek di bawa ke mobil jenazah.